Kematian Misterius “The Panama Girls”

Kematian seseorang memang sejatinya tidak ada yang tahu kapan datangnya, bagaimana cara mereka mati, dan dimana mereka akan mati. Karena kematian sama seperti jodoh, rezeki, yang merupakan takdir Tuhan. Oleh sebab itu kita sebagai manusia yang tidak tahu apa-apa tentang apa yang akan terjadi pada kita di hari ini, esok atau lusa hendaknya selalu berbuat baik selagi masih memiliki waktu.

Banyak sekali kita telah mendengar beragam kematian seseorang yang entah itu menyedihkan, konyol, ganjil, bahkan misterius. Pernahkah kalian mendengar hilangnya “The Panama Girls”? ya, dua gadis asal Belanda bernama Lisanne Froon dan Kris Kremers yang memiliki tujuan untuk berlibur, belajar bahasa Spanyol, dan menjadi guru relawan di Panama mendadak hilang saat mereka mendaki gunung Volcan Baru, Panama. Masalahnya kepergian yang mendadak dan misterius serta meninggalkan bukti-bukti fotografi yang sangat aneh disaat-saat terakhir mereka menjadi subyek spekulasi bahkan sampai hari ini.

Kejadian ini berawal pada 1 April 2014, saat itu Lisanne dan juga Kriss merencanakan akan berjalan-jalan disekitaran gunung Volcan Baru (sekitaran Bouquete) bersama anjing milik tempat mereka menginap yang bernama Azul. Namun, hal yang ganjil pun terjadi, hari itu Lisanne dan juga Kriss tidak kembali ke penginapan hanya Azul saja yang kembali ke penginapan.

Hal ini sungguh membuat pemilik penginapan merasa ada yang tidak beres dengan kedua wanita tersebut. Akhirnya si pemilik penginapan tersebut memutuskan untuk mecari Lisanne dan juga Kriss disekitaran rumahnya di Alto Bouqute. Tetapi nihil kedua gadis tersebut tidak berhasil ditemukan.

Pun kejanggalan mulai terjadi atas tidak ditemukannya kedua gadis tersebut. Tepatnya pada 2 April 2014, seorang tour guide yang telah memiliki janji mendaki dengan Lisanne dan Kriss mendadak menghubungi pihak pemilik penginapan dan bertanya mengapa kedua gadis tersebut tidak datang untuk menepati janji pendakiannya. Karena dianggap Lissane dan Kriss telah menghilang, akhirnya pemilik penginapan dan tour guide pendakian menghubungi orang tua gadis tersebut dan melaporkannya kepada polisi setempat. Pencarian baru bisa dimulai pada esoknya, tepat pada 3 April 2014.

Pencarian selama 3 hari berakhir nihil hingga kedua orang tua Lissane dan Kriss beserta polisi dan juga detektif dari Belanda. Bahkan mereka menawarkan $30.000 dollar bagi siapapun yang dapat menemukan kedua gadis tersebut. Namun, tidak ada yang berhasil menemukan keduanya.  Hingga 10 minggu kemudian, seorang wanita lokal menemukan ransel misterius berwarna biru di sawah persis tepi sungai desa Alto Romero di wiliyah Bocas del Toros.

Pihak berwajib pun mengecek tas tersebut. Saat pengecekan, polisi dibuat kaget oleh hasil penemuan ini. Tas tersebut ditemukan dalam keadaan bersih dan rapi, tetapi hal yang membuat aneh adalah ditemukannya 34 sidik jari yang berbeda pada barang-barang mereka berdua dan 13 diantaranya berada di ransel. Padahal di daerah tepat ransel tersebut ditemukan, nyaris selalu dilanda hujan deras selama beberapa hari.

Investigasi pun dimulai, polisi mengecek riwayat panggilan pada kedua handphone milik kedua gadis tersebut. Namun, bukannya mendapat titik terang, polisi semakin dibuat bingung karena sejak 1 April hingga 11 April ponsel milik gadis tersebut terus mencoba menghubungi pihak polisi dan hanya satu kali mereka dapat tersambung dan selama satu detik.

Penyelidikan dilanjutkan dengan memeriksa kamera milik Lissane yang ditemukan di dalam ransel. Polisi menemukan 100 foto dihari gadis itu menghilang. Saat ditelisik beberapa foto aneh pun ditemukan, dimulai dari foto langit yang diambil dari bawah, ranting pohon, hingga foto kenampakan rambut milik Kriss dari belakang. Polisi bersama beberapa timnya melakukan pencarian lagi disekitar sungai di mana ransel milik Lisanne ditemukan. Mereka menemukan celana jeans pendek milik Kriss yang berada di atas batu dalam keadaan bersih dan terlipat rapi.

Setelah dua bulan pencarian hasilnya nihil. Tetapi polisi menemukan tulang panggul manusia dan sepatu boots yang di dalamnya masih berisi potongan kaki manusia yang mulai membusuk. Setelah diotopsi, mereka menyakini bahwa tulang panggul tersebut milik Kriss dan potongan kaki itu adalah milik Lisanne.

Namun, Polisi dan tim investigator hanya menemukan dua potongan tubuh manusia, mereka kesulitan dalam mendeskripsikan penyebab kematian kedua gadis malang itu. Sampai pada akhirnya kepolisian Belanda menyatakan bahwa mereka meninggal karena kecelakaan. Tetapi menurut kepolisian Panama penyebab kematian mereka diduga adanya tindakan pembunuhan pada Kriss dan Lisanne. Karena keganjilan dari kasus ini menimbulkan banyak spekulasi dari masyarakat dari kecelakaan hingga adanya penumbalan.

***

Nah, dari ceita di atas saya justru memiliki asumsi bahwa mereka mati disebakan oleh adanya ritual penumbalan yang dilakukan oleh penduduk pedalaman yang tinggal di daerah gunung tersebut. Sebab ada bukti temuan lebih dari 30 sidik jadi yang berbeda dibarang-barang bukti. Di mana kemungkinan setelah kedua gadis tersebut diculik, barang-barang mereka digeladah oleh penduduk asli disana.

Selain itu asumsi saya ini diperkuat dengan adanya foto-foto yang diambil secara random, yang bisa saja dilakukan oleh oleh penduduk asli pedalaman gunung tersebut yang masih primitif dan minim pengetahuan apalagi tentang teknologi. Selain itu foto rambut milik Kriss yang masih terlihat bersih dan rapi padahal sudah tersesat berhari-hari, tidak menutup kemungkinan bahwa Kriss dijadikan tumbal. Sebab, mana mungkin tumbal dari sebuah ritual dipersembahkan dengan cara yang tidak rapi.

Kemungkinan lain mengapa rambut Kriss masih bersih bahwa Kriss didadani oleh penduduk suku tersebut sebelum dijadikan tumbal. Alih-alih Lisanne yang mungkin saja ketahuan sedang melihat ritual tersebut akhirnya mencoba melarikan diri, tetapi malah sialnya tertangkap berhasil oleh penduduk suku tersebut. Pun kakinya dipenggal agar tidak bisa kabur kemana-mana. Lantaran potongan kaki tersebut seperti kaki bekas terpenggal yang dipotong dengan rapi.

 

Penulis : Marsya Alivia Puteri

Editor: Khoirul Atfifudin

Illustrasi: https://id.pinterest.com/pin/33847434689930152/

Leave a Reply

Your email address will not be published.